Mungkin Hampir Sampai di Ujung Lorong

|
Allah tuh selalu jadi penghibur seberapa banyak pun kesalahan yang saya perbuat. Setelah berpeluh-peluh ria selama setahun, setelah seminggu saya mengikhlaskan melepaskannya... Tiba-tiba lebih banyak penghiburan dan nikmat yang Allah datangkan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Bu Putri bisa ya hari Selasa datang untk perkenalan program coaching BI," kata Bu Rani, asisten program Coaching BI. Saya kesel sih disapa "Bu". Jarang banget disapa begitu, malah biasanya ditanya "kuliah di mana?". Untung kabar baik.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Put, saya mau kalau kamu udah siap jadi redpel untuk portal dan e-magz dan jadi karyawan tetap", begitu kata bos saya lewat WhatsApp. Belum saya iyakan atau tidak-kan. Boookk...kerja kantoran di Jakarta bikin tua. Dan mungkin ini sebuah godaan untuk konsistensi saya terhadap bisnis Nutrice: kerja kantoran atau bangun bisnis?

Saya nggak tahu apa jabatan itu benar disebut 'redaktur pelaksana' soalnya di bawahnya langsung adalah wartawan yang bareng-bareng megang semua halaman dan di atasnya langsung adalah editor in chief.

Terus, si Papa bilang, "Kamu mungkin bukan orang lapangan. Mungkin kamu konseptor. Kalau begitu harusnya operasional bisnis kamu bisa diserahkan saja ke teman-teman." "Siapa tahu tawaran bosmu itu bisa membuka jaringan untuk bisnis kamu",katanya lagi.

Kalimat bokap yang selanjutnya bikin saya nggak bisa tidur malam itu: "Semua tergantung kamu, berani nerima tantangan atau nggak". Tau banget saya nggak suka ditantang -____________-

Tapi saya masih mikir...kerja kantor di Jakarta tuh sucks. Capek batin dan fisik. Apa mungkin saya ajukan 'terms & condition' ke Pak Bos? #PedeBangetGue. Saya harus mulai rajin buka KBBI - aktivitas yang paling malas saya lakukan sejak selesai skripsi - kalau jadi redpel.

Saya masih bingung kenapa Pak Bos berharap saya jadi redpel. I'm excelled at translating, but i have no damn idea about journalism. I did several interviews.. but it didn't simply make me a journalist. 

image source: Pixabay
Tapi saya ngebayangin ya kalau jadi redpel bakal sering makan ati..mengingat yang di otak saya soal gagasan branding media online kami bakal ngeluarin budget gede dan Pak Bos kemungkinan kecil kasih saya kesempatan ngomong di depan Bos Besar.

Kenapa saya mikir branding bukannya setting agenda konten? Nggak melulu mikir branding sih, cuma harus diakui ini media perlu ngeluarin effort dan budget lebih biar namanya 'kedengeran' di luar sana. Mau bikin event buat startup aja nggak jadi-jadi. Masa' kalah nama sama tetangga sebelah.

Belum jadi redpel aja minggu lalu saya udah meluapkan kekesalan. Ya iya dong...deadline e-magz tinggal tiga hari, tapi belum ada satu pun artikel topik utama yang masuk deskaway...dipikir ngedit gampang -___-

Begitu ada artikel topik utama yang masuk...hasil dari siaran pers *wtf* dan nggak sesuai tema dan dilolosin ke deskaway NASKAH OKE sama redpel yang sekarang. Saya jadi tahu kenapa mbak Ayu doyan marah-marah.

jadi curhat -___-"

Kalau dipikir-pikir nasib saya soal karir sama dengan nasib si Beruang Coklat. Satu tahun lebih bekerja udah dapat promosi.Tapi saya masih galau mau nerima atau nggak.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Nutrice masuk 50 besar Shell Business Competition. Hari Sabtu ada survei," kata Titah, teman satu tim bisnis. Langsung saya ubah jadwal 'ngamen' di Yogyakarta demi bantu Titah nyiapin segala sesuatu untuk ketemuan sama tim survei dari Shell.

Pengumuman dari Titah bikin saya tambah excited dengan bisnis kami daaaann bikin saya tambah galau: Gimana caranya biar bisa punya mesin vacuum sealer. Semoga dapet duit dari Shell, ya Gusti...dan apa pun yang terbaik...
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tiba-tiba begitu banyak kejutan yang datang ke saya. Mungkin ini pertanda saya hampir sampai di ujung lorong where a beam of light shining through. Tapi, saya masih menunggu janjiNya yang satu itu. Mungkin saja ini awal Dia menepatinya janji. Berbaik sangka nggak ada ruginya.


Alhamdulillah

Rafting Murah di Dekat Jakarta, Ada yang Mau Ikut??

|


Kemarin kawan saya ngontak lewat Facebook. Kami udah tahu satu sama lain tapi belum pernah ketemu secara langsung. Tahu hanya lewat Facebook karena kami jadi anggota di salah satu komunitas.

Dia biasa disapa "Syn". Saya bahkan belum tahu itu nama asli atau nama panggung. Tapi rasanya kami sudah kenal lama. Ya...rasanya..hahaha...sama kayak rasanya saya kenal Irma, Sigit, dan teman-teman unik saya yang lainnya.


Agak kaget juga tiba-tiba dia menyapa. Intuisinya yang mengarahkan untuk menghubungi saya...biasanya begitu cara kerjanya. Lalu..ngobrol lah soal desa wisata binaannya. Katanya lokasi nggak jauh dari stasiun Bojonggede. Tinggal naik angkot sekali, sampai.

Buat warga Jakarta yang butuh liburan yang sesungguhnya (bukan ke mal, bioskop, dan kafe) tapi tetep hemat, desa wisata ini mungkin bisa jadi alternatif yang oke selain puncak,Taman Buah Mekar Sari, Pulau Seribu, Kebun Raya Bogor dan Kebun Binatang Ragunan.

Usut punya usut, dia mengelola desa binaannya itu pakai uang pribadi. Nah, kan nggak mungkin terus-terusan pakai duit pribadi dong ya bisa amsyong, dia berencana mengajukan proposal pendanaan ke lembaga non-profit, CSR, dan mempromosikan desa wisatanya.

Itung-itung ngebantu, saya bagikan info ini ke temen-temen. Siapa tahu lagi butuh liburan murah dan deket Jakarta. Monggo dijajal :)


Saya dan 6 orang teman (dan masih bertambah) berencana menjajal rafting di desa ini weekend akhir Agustus. Rafting 6 km ini syaratnya minimal 6 orang, maksimal 12 orang.

Selain rafting, masih ada pilihan paket wahana lainnya. Silakan klik di sini untuk informasi lebih lanjut dan silakan ngontak Syn di link ini.

Cheers

Note: Beruang Coklat, bantu promosi ya siapa tahu ada kawan-kawan yang tertarik untuk liburan di situ :) Thank You

Kenikmatan Duniawi Belum Tentu Tanda Kasih Sayang Allah

|


Pagi ini di grup WA pengusaha, ada teman saya berbagi tentang ini:

Rajin bermaksiat namun rezeki lancar dan sukses berbisnis. Ada orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar, bisnisnya sukses, pelitnya luar biasa. Gimana tuh?


Telat Memahami "Shallow Sleep"

|


Dulu saya penggemar L'Arc En Ciel atau dalam aksen Jepang biasa disebut Laruku. Mulai dengerin lagu-lagu mereka sejak SMP kelas 2 sampai awal kuliah saya masih penggemar mereka. Sekarang masih suka cuma bukan penggemar lagi, karena hidup sekarang lebih berat bung.

Suara khas vokalisnya, Hyde, bikin aransemen dan lirik lagu mereka jadi bernyawa. Epic-lah suaranya si Hyde. Sampe ada tuh band Indonesia yang suara vokalisnya mirip Hyde (entah dimirip-miripin atau emang mirip), warna musiknya juga sih. Laruku kw 2.


Beruang Coklat yang Ngejar Kupu-kupu Cantik

|


Saya takjub sama cewek-cewek yang bisa curhat tentang percintaan pribadinya di blog. Takjub dalam konteks positif ya - walaupun curhat tentang percintaan pribadi di blog tuh kedengarannya payah, tapi saya kali ini pingin jadi payah.

Cewek-cewek itu bisa mengungkapkan kegalauannya dengan kata-kata yang bagus. Saya pingin banget bisa curhat masalah percintaan pribadi di blog dengan kalimat yang puitis dengan segala metaforanya supaya nggak gamblang ditebak pembaca (ngapain nulis ya kalau nggak mau ketahuan?*krik krik) . Tapi, saya udah nyoba dan nggak bisa.

Pengakuan banyak teman-teman, saya pribadi yang 'lurus' kalau ngomong. Terlalu jujur kalau bicara, sering malah menyakitkan. Buat saya, sakit hati dengar kalimat jujur tuh karena kita yang nggak siap dengan kejujuran. Buktinya, mereka tetap datang ke saya walaupun menyakitkan...hahaha
Mungkin karena karakter dan kebiasaan saya yang seperti itu saya nggak bisa bikin kalimat drama apa lagi puitis. Padahal saya pingin banget bisa T.T

Beklah...


Kalau Merasa Manusia, Mengantrilah!

|


Jadi, hari ini saya menghadiri acara sosialisasi sertifikasi Halal MUI, bantuan berupa sertifikasi  gratis dari Pemda DKI untuk para pelaku UKM di DKI Jakarta. Kata salah seorang panitia animo para pelaku UKM untuk mengikuti program ini pada gelombang saat ini adalah yang terbesar. 

Kelihatan sih dari banyaknya peserta yang datang, sampai panitia harus menyiapkan kursi tambahan. Ini pertama kalinya saya datang ke acara semacam ini. Ngarep bantuan sertifikasi Halal gratis. Uang Rp 2-4 juta buat usaha mikro tuh lumayan banget. Alhamdulillah ada program semacam ini setiap tahun. *Semoga dapet Ya Rabb. Membludaknya peserta seperti kurang diantisipasi oleh panitia, terlihat dari makan siang yang disediakan secara prasmanan kuantitasnya pas-pasan...mungkin karena saya biasa makan di kondangan yang prasmanannya masih bersisa banyak kali ya. 

Tentang LABEL anak Indigo

|


Istilah ‘anak indigo’ mungkin udah nggak asing lagi di telinga kita.
Sampai ada yang bikin lagunya

You're my little indigo girl..indigo eyes...indigo mind...

Lagu jadul tahun 90-an judulnya 'Indigo Girl' yang nyanyi Watershed. Mungkin si pencipta lagu punya anak perempuan indigo.

Orang-orang sering mempersepsikan anak indigo adalah anak yang memiliki kemampuan indera keenam; bisa ngeliat hantu, bisa ngeramal, bisa tahu pikiran orang.

Anyway, yang masih penasaran sama sejarah dipakainya istilah indigo, bisa klik di sini.
Pertama, persepsi kayak gitu nggak selalu benar sih. Ya, ada anak yang bisa ngelihat makhluk halus, tapi bukan berarti dia selalu terlahir indigo. Bisa juga karena orang tuanya atau leluhurnya ada yang pernah melakukan ritual ilmu hitam atau perjanjian dengan makhluk ghaib, jadi makhluk-makhluk itu ngikut. Ada juga temen saya yang ngakunya indigo tapi nggak bisa lihat makhluk ghaib.

Terus gimana cara bedain anak indigo beneran sama yang abal-abal? Saya juga nggak tahu sih ...haha... Lagian nggak penting siapa indigo, siapa bukan. Trus kenapa mereka sempat bikin heboh kalau nggak penting? Ah, itu mah kerjaan media yang cari duit. Dalam hal ini bagian terpenting sebenernya bukan label dan keistimewaan, tapi isi. 

Kedua, sebenarnya pesan yang mau dibawa anak-anak ini adalah... apa yang saya sebut "trancendental awareness’. Nah, ini isinya! Ini yang penting!

Contoh kecilnya ‘trancendental awarness’, buang sampah nggak sembarangan karena sadar itu bisa merusak keseimbangan alam yang akhirnya merugikan makhluk hidup yang ada di bumi.

Contoh besarnya, mencintai alam dan sesama manusia sepenuh hati. "Mencintai sepenuh hati", kedengarannya klise, tapi teman-teman saya yang indigo mengajarkan saya bahwa mencintai itu adalah nafas kehidupan dan selalu melibatkan keihklasan, istiqamah dan tawakal.

Jadi, buat mereka mencintai sepenuh hati tuh udah sistem auto-pilot yang dikasi ke mereka oleh Tuhan, Sang Maha Cinta. So, they take it for granted...happily. Kalau cinta itu terkadang menyakitkan buat orang pada umumnya, buat indigo cinta pada akhirnya adalah anugerah...dalam berbagai bentuk.

Ketiga, kenyataannya semua orang pada dasarnya punya ‘awareness’. Hanya saja ada yang aktif dan ada yang nggak aktif. Jadi, semua orang bisa jadi indigo? Ya, bisa aja kalau bagian yang itu udah aktif.

Caranya gimana biar aktif? Ya banyak-banyak berdoa sama Tuhan minta hidayah supaya bisa belajar mencintai-Nya. Karena berdoa dan hidayah itu proses, jangan harap bisa cepet kayak masak indomie. Kecepatan orang belajar kan juga beda-beda ya, ujung-ujungnya tergantung bawaan/bakat.

Kalau bakatnya belajar cepat ya cepat, kalau lambat ya lambat dan butuh effort mungkin dua kali lipat daripada yang bakatnya belajar cepat.


Keempat, indigo tuh nggak selalu anak-anak. Ya kan mereka manusia yang bertumbuh dan berkembang. Ada juga teman saya indigo dewasa.
Kelima, katanya anak indigo tuh rebel? Ya umumnya temen-temen saya sih gitu. Tapi, kalau anak Anda rebel bukan berarti selalu indigo ya.

Sebagai orang tua, coba Anda cek diri Anda dulu sebelum memvonis mereka indigo atau menyalahkan mereka atau bilang anak Anda rebel karena mereka nakal dari sononya.

Keenam, nggak usah ribet soal label lagi ya. Apa lagi heboh sama kelebihan mereka yang bisa ini-itu. Kelebihan toh cuma pinjaman dari yang Maha Lebih. Ambil isinya aja.

Ketujuh, kalau ada Indigo meramal, hmm...jangan percaya ramalan. Kebenaran hanya milik Tuhan. Ya, biarin aja indigo mau ngomong apa hahaha..hak mereka bicara.

Kedelapan, pada akhirnya LABEL indigo nggak penting. Yes! Karena semua kembali lagi pada-Nya.

Selesai...

Curahan Hati Tentang Cinta

|


Saya nggak peduli kamu sendawa dan kentut berapa kali di dekat saya setiap kali kita jalan, cinta saya masih sama kok kayak waktu kamu masih jaim.

source: memequick


Sekian dan terima kasih...


Kartu Ucapan Cinta Koplak

|

Lagi jalan-jalan, nemu kartu ucapan koplak:








Ini favorit saya 

(boredpanda)